Renungan Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional
  • copy tautan!
subscribe

Renungan Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional

02 May 2018

Pendidikan, oh pendidikan. Memangnya fungsi sebenarnya buat apaan sih?

 

Tepatnya tanggal 2 Mei 2018 ini kita semua memperingati Hari Pendidikan. Hari Pendidikan ini ditetapkan pemerintah untuk menghormati bapak pelopor pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Harapannya sih,

dengan adanya peringatan ini, kita semua bisa semakin peduli terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.

 

Setelah 129 tahun berlalu apakah mutu pendidikan Indonesia sudah dianggap baik dan menghasilkan manusia yang layak saing? Coba kita renungi satu-persatu ya…

 

Kurikulum Masih Kaku

Sistem kurikulum di Indonesia masih terkesan kaku. Kurikulum pendidikan di Indonesia masih lebih mengutamakan ‘bungkus’ ketimbang ‘isi’. Misalnya, dalam pelajaran matematika murid selalu harus dituntut mampu menghafal rumus dan mengerjakan soal sesuai dengan rumus tersebut. Padahal, apa yang mereka kerjakan cuma pengulangan format yang sama. Murid jarang diberi masalah yang lebih praktis. Masalah yang erat kaitannya dengan kehidupan nyata mereka. Kita cuma selalu disuruh serius belajar dan tiap tahun wajib ikut Ujian Nasional.

 

Jika meminjam perumpamaan Paolo Freire, pakar pendidikan kritis, kurikulum pendidikan Indonesia itu modelnya seperti gaya bank. Murid diperumpamakan celengan, sedangkan guru diperumpamakan seperti si penabung. Guru yang membuat peraturan, murid yang diatur. Guru mengajar, murid diajar. Guru bercerita, murid mendengarkan. Intinya,  murid hanya jadi objek, sedangkan guru adalah subjeknya. Maka yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah. Pendidikan jadi cuma mendikte.

 

Passion Murid Masih Jarang Dihargai

Dalam sistem pendidikan Indonesia, passion dari setiap murid masih kurang dihargai. Ukuran cerdas selalu ditentukan oleh nilai dalam raport atau indeks prestasi. Padahal, di balik itu ada item lain yang kita kenal sebagai passion. Yaitu minat setiap orang pada bidang tertentu. Belajar tanpa passion itu kadang seperti, ikan yang punya keahlian berenang, tapi dipaksa untuk bisa terbang. Nah, kira-kira inilah yang masih terjadi di Indonesia. Ketika passion murid masih jarang dihargai malah cenderung terkungkung.

 

Pendidikan Negara Berkembang dan Negara Maju

Namun, sistem pendidikan yang mendikte seperti di Indonesia ini tidak terlalu mengherankan. Karena sebagian besar negara-negara berkembang memang masih memfokuskan pendidikannya hanya untuk kepentingan pemenuhan sumber daya dunia industri. Alhasil, pendidikan lebih sering mencetak pekerja daripada pemimpin.

 

Berbeda sekali dengan negara-negara maju seperti di Amerika atau di Eropa. Pendidikan tidak lagi terlalu mendikte, tapi justru lebih fleksibel. Pendidikan di sana diusahakan bisa menjadi tempat para murid untuk menuangkan minat dan bakatnya. Bahkan, beban kurikulumnya lebih ringan di sana, lho.

 

Contohnya di negara Finlandia yang sudah umum dikenal sebagai negara yang punya sistem pendidikan terbaik, di sana jam belajar jauh lebih sedikit. Anak-anak tak terlalu didikte oleh sistem pendidikan. Bahkan, waktu liburan di sana jauh lebih panjang. Belum lagi, di Finlandia banyak model pengajaran yang memberi ruang pada kreativitas murid. Contohnya, ketika proses pelajaran pengetahuan alam, anak-anak diajak bermain ke ke hutan didampingi oleh gurunya. Mereka sebisa mungkin tidak boleh terlalu lama di kelas. Seru, ya?

 

Itulah salah satu alasan kenapa ADSvokat ada. ADSvokat ingin dan terus berusaha mengembalikan fungsi pendidikan sebagaimana mestinya: menghargai kreativitas dan potensi setiap orang. Makanya, pantengin ADSvokat ya. Dapat ilmu lebih #MasaGakMau?

 

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.