Profesi: Komikus – Jasmine H. Surkatty
  • copy tautan!
subscribe

Profesi: Komikus – Jasmine H. Surkatty

07 May 2018

Di Indonesia, ada beberapa profesi yang sering dianggap remeh. Salah satunya adalah  profesi komikus. Profesi ini bahkan banyak dikira cuma main-main atau sekadar hobi doang. Padahal, sekarang komikus itu jadi pekerjaan yang harus bisa dikerjakan secara profesional, lho.

 

Buktinya, sekarang ada beberapa lembaga yang memanfaatkan komik sebagai salah satu media beriklan. Biasanya, untuk keperluan kampanye atau promosi suatu event tertentu.

Tapi, apa benar profesi komikus ini menjanjikan? Biar nggak penasaran, yuk simak wawancara ADSvokat bersama kak Jasmine Surkatty yang merupakan kreator Komik Gak Jelas sekaligus illustrator.

 

Dulu kuliah jurusan apa, kak?

Aku dulu kuliah double degree jurusan Art and Design di Binus Internasional dan Northumbria Newcastle UK.  

 

Ada kaitannya nggak kuliah sama profesi kakak sekarang sebagai komikus?

Ada banget. Kuliah punya pengaruh besar sama profesiku sebagai komikus saat ini. Aku belajar banyak hal saat kuliah. Ada beberapa pelajaran yang memang kepake banget saat aku bekerja.

 

Di kuliah dulu belajar tentang bagaimana caranya membuat branding product. Yang tujuannya adalah menciptakan brand awareness bagi konsumen kita. Contohnya, ketika aku bikin serial Komik Gak Jelas, aku buat sosok tokohnya itu warnanya uniform alias seragam. Ini tentu ada tujuannya, supaya orang bisa langsung menangkap identitas karakter komikku waktu sekilas baca.

 

Aku juga belajar cara mengatur waktu dengan baik dan multitasking dari kuliah. Ini ngebantu banget karena, membantu aku mengatur pekerjaanku sendiri. Apalagi kalau pas project aku lagi banyak banget.

 

Dulu waktu kuliah kegiatannya ngapain aja?

Waktu kuliah aku juga belajar membangun koneksi. Di kampusku, banyak orang dari berbagai macam latar belakang berbeda, dari mulai orang design sampai orang film. Aku berusaha memanfaatkan koneksi itu buat kerjaanku. Hasilnya, aku banyak dapet orderan dari koneksi ini.

 

Apa ada momen pas kuliah yang membuat kakak nemuin jiwa sebagai komikus ini?

Ada. Waktu pas lagi bosen ndengerin dosen ngejelasin teori, aku iseng-iseng ngegambar komik. Objeknya dosen aku itu. Dia aku gambar jadi karakter komik yang akhirnya jadi cikal bakal seri Komik Ga Jelas.

 

Dari sini, aku jadi rajin ngamatin orang. Kayak ada pak polisi di jalan raya, aku amati terus dan membayangkan cerita apa yang bisa aku bikin dari kondisi itu. Jadinya aku nggak mainan gadget mulu.

 

Jadi, kemunculannya Komik Gak Jelas itu waktu kuliah ya, kak?

Iya. Terus, beranjak dari sana ada teman yang menyarankan untuk membuat fanpage Facebook. Ternyata banyak yang suka. Sampai sekarang followersnya udah 53 ribu lebih.

 

Aku pun akhirnya nekad ikut acara pameran Kolam Komik di Bandung. Aku produksi komikku 100 eksemplar dan laku semua. Yeay!

 

Apa mata kuliah favorit kakak?

Film production dan graphic design. Dua mata kuliah itu favorit banget. Karena dari film production aku belajar bagaimana caranya memproduksi sebuah konten dari nol. Sedangkan kalau graphic design aku suka karena itu yang ngajarin aku teknik buat bikin branding komik.

 

Menurut kakak, di setiap kampus harus ada mata kuliah apa?

Harus ada mata kuliah enterpreunership. Ini mata kuliah yang menurutku penting banget. Apalagi buat anak zaman sekarang yang kebanyakan lebih senang kerja sebagai freelancer.

 

Tapi kalau mereka nggak punya wawasan soal bagaimana cara set harga yang baik sampai bikin proposal project, kerjaannya nggak bakal menghasilkan.

 

Salah satu contoh praktek ilmu enterpreunership yang paling simple adalah etika berkirim email. Dulu, dosenku sempat marah-marah sama mahasiswa yang kirim email, tapi isinya attachment file-nya doang. Badan emailnya kosong. Padahal kebiasaan yang terkesan remeh ini penting banget. Karena, cara beremail yang baik adalah bagian dari etika berkomunikasi.  

 

Profesi komikus bisa jadi profesi yang menjanjikan nggak sih?

Cukup menjanjikan banget. Apalagi kalau dapat project dari perusahaan. Aku mulai pasang tarif tiap satu project harganya satu juta rupiah. Tapi, tergantung lembaganya. Kalau perusahaannya komersil aku bakal pasang harga lebih mahal. Kalau perusahaannya bergerak di bidang sosial, aku bakal turunin tarifnya.

 

Komik dan komikus favoritnya siapa?

Banyak banget. Beberapa aja ya, aku sebutin. Kalau dalam negeri aku suka kak Annisa Nisfihani kreator komik Pasutri Gaje. Kalau luar negeri, jelas aku suka banget sama Alan Moore yang bikin komik Watchmen dan V For Vendetta.

 

Pesan kak Jasmine buat adik-adik yang masih kuliah?

Jangan takut gagal. Sebab, zaman sekarang tuh persaingannya ketat banget. Lagian, kegagalan itu nggak selalu jelek kok. Aku sendiri, juga sering gagal. Misalnya, waktu bukuku nggak laku. Tapi aku jadi tahu kelemahannya dan akhirnya bikin trik biar laku lagi.

Kamu sekarang akhirnya percaya kan, ternyata profesi komikus di zaman sekarang bisa dijalankan secara profesional. Dan di dalamnya kamu bukan cuma harus bisa ngegambar aja, tapi juga harus jago branding. Jasmine Surkatty adalah contoh bahwa kuliah dan passion itu bisa berjalan beriringan. Intinya, kamu nggak boleh takut gagal. Jadi, kalau kamu pengen jadi komikus, jangan kasih kendor, ya!

 

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.