Off The Wall: Vans, dari Sepatu jadi Simbol
  • copy tautan!
subscribe

Off The Wall: Vans, dari Sepatu jadi Simbol

30 January 2018

Coba kamu lihat kicks temen-temen kamu. Penggemar sneaker atau bukan, pasti kamu perhatiin kalau ada beberapa brand yang populer dan punya followers yang loyal. Salah satunya Vans. Sebagai brand sepatu yang identik dengan dunia skater, Vans menyimpan lesson yang bisa nambah wawasan kamu.

Cerita Vans dari “Off The Wall” ke “Wall of Fame”, dari sepatu anak skateboard jadi ikon kultur anak muda dunia, berawal dari perusahaan karet The Van Doren Rubber Company yang didirikan tahun 1966 oleh dua bersaudara, Paul dan James Van Doren, di Anaheim, California. Cita-cita mereka simpel aja, menjual sepatu langsung ke semua orang. Di pertengahan dekade 1970-an, gerai sepatu mereka sudah ada di 70 titik dan mulai dipakai anak-anak skater di California. Vans lalu jadi ciri khas skater crowd yang muda, sporty, nyantai, dan berjiwa bebas. Lama-kelamaan, Vans ngga cuma dipakai anak skater tapi juga seniman dan pekerja kreatif, menandai lahirnya “Californian Style“. Puncaknya, Vans Slip-On resmi jadi simbol kultur anak muda saat dikenakan Sean Penn di salah satu adegan film Fast Times at Ridgemont High (1982), film ikonik anak muda generasi 80-an.

Popularitas membuat Vans bereksperimen, mengikuti kompetitor dan memperluas produk hingga ke athletic sneakers. Nggak cuma buat olahraga, tapi juga buat break dance. Eksperimen ini malah bikin Vans bangkrut di tahun 1984 dan harus membayar hutang sebanyak US$12 juta di tahun 1987, dan sempat dijual ke firma McCown De Leeuw & Co. di 1988.

Kamu mungkin bertanya, setelah bangkrut, kok bisa Vans jadi seperti sekarang?

Kebangkitan Vans dimulai lewat film Dogtown and Z-Boys yang diproduseri Vans bersama Stacy Peralta tahun 2001. Nah, dari film ini tagline “Off The Wall” berasal. Di sebuah adegan, para skater memanfaatkan kolam renang kering yang tak lagi digunakan, meluncur dan menggunakan kelengkungan dinding kolam, melompat menantang gravitasi sesaat. Terbang “off the wall”.

Vans semakin “off the wall” saat di tahun 2002, Rian Pozzebon bergabung dengan Vans dan bersama Jon Warren ditugaskan buat kembali menghidupkan Vans. Sebagai Head of Footwear Design for Vans, Pozzebon dan tim desainnya benar-benar kembali ke basic, mengombinasikan 5  Key Classic Vans: Vans Era, Old Skool, Slip-On, Authentic, dan Sk8-Hi, kembali ke DNA perusahaan dengan menggandeng komunitas skater. This time, with attitude.

Global Brand President Vans, Doug Palladini, menjadikan “Off the Wall” ngga cuma sebagai jargon, tapi juga spirit mereka yang membeli Vans: berani berpikir berbeda tapi ngga pretensius, dan yang terpenting, berani bilang “Inilah aku”. Dengan semangat ini, Vans menjalankan campaign lewat media sosial dengan ambassador yang dipilih karena punya “organic relationships” dengan Vans, mulai dari musisi, skateboarder, surfer, hingga anak grafiti. Mereka “ditugaskan” membuat video tentang apa yang mereka lakukan dan bagaimana “being original” bisa membuat mereka “Off The Wall”. Contohnya, “I can do me the best,” kata drummer Inggris Louise Bartle dalam salah satu seri video “This Is Off The Wall”.

Hasilnya? Di tahun 2015, penjualan Vans mencapai lebih dari US$2 milyar.

Vans bukan cuma sepatu anak skate. Vans sudah jadi brand gaya hidup dan fashion, bahkan jadi simbol. Mulai dari simbol pop culture Amerika–sama dengan Converse (yang umurnya dua kali lebih tua) dan Nike (yang nilai perusahaannya hampir 10 kali lebih besar), simbol Millennials, hingga simbol sikap cuek dan percaya diri. Dipakai barista, fashion blogger sampai startup bro. Dari Kristen Stewart di red carpet, Frank Ocean di White House, sampai gebetanmu di kampus.

Jadi apa yang bisa kamu pelajari dari Vans?

Bener banget. Be original.

“Kalau sudah jadi diri sendiri, so what?”, mungkin kamu masih ragu. Nah, satu lagi yang bisa kamu pelajari dari Vans. Dengan be original dan “jujur” pada karakternya,  Vans bisa punya jajaran penggemar setia selama puluhan tahun. Vans nggak perlu heboh bikin campaign, para pengguna Vans akan dengan senang hati menceritakan pengalaman mereka gede bareng dan seru-seruan bersama Vans.

Punya brand favorit? Kamu bisa kok, menjadikan brand favoritmu bagian dari aktivitasmu sehari-hari dan tanpa terlihat maksa. Sama kaya Vans, just be yourself. Dengan jadi diri sendiri, kamu bisa mewakili karakter brand favoritmu sekaligus bikin orang-orang tertarik berteman sama kamu.

Nah, bersama ADSvokat kamu bisa lho makin gampang nambah teman, nambah pengalaman, dan nambah uang jajan. Kalau kayak gitu, #MasaGakMau?

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.