Kenangan Muram Tragedi Trisakti 1998
  • copy tautan!
subscribe

Kenangan Muram Tragedi Trisakti 1998

11 May 2018

Hidup di zaman sekarang tuh udah terbilang enak banget, lho. Sekarang, teknologi sudah sangat memudahkan banyak urusan orang. Dulu, jarang sekali orang yang punya telepon selular, karena harganya masih tergolong mahal dan yang punya cuma orang-orang elit doang. Orang kelas menengah ke bawah masih mengandalkan telepon rumah atau wartel. Pokoknya, untuk komunikasi aja agak repot.

 

Beda banget sama kondisi sekarang yang penuh dengan kemudahan. Sekarang, hampir semua orang punya handphone. Internet juga udah jadi mudah diakses banyak orang. Perkembangan teknologi informasi memudahkan semuanya.

 

Di tambah lagi, kini kondisi ekonomi Indonesia juga cenderung stabil. Kurs rupiah sama dollar juga masih seimbang. Dengan adanya internet, hak berpendapat juga sangat terbuka. Kritik kepada pemerintah bisa dengan mudah kamu temukan di linimasa sosial media kamu.

 

Sudah sepatutnya kita mensyukuri kondisi nyaman yang ada saat ini. Soalnya dulu sebelum tahun 1998, Indonesia pernah memasuki masa kelam yang bikin getir, lho. Saat itu, negara Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soeharto sangat membatasi kebebasan berpendapat. Sampai-sampai mereka yang terlalu vokal bisa langsung ditangkap.

 

Kesuraman Indonesia bertambah karena mengalami krisis moneter. Nilai rupiah terhadap dollar Amerika anjlok dan terjadi inflasi besar-besaran.  Rakyat merasa sudah sangat jenuh kondisi saat itu. Mahasiswa mewakili suara rakyat, pun turun ke jalan untuk menuntut Presiden Soeharto turun dari tahtanya. Tapi, sayangnya aksi ini mendapatkan perlawanan dari pihak pemerintah. Militer punya wewenang untuk bertindak represif kepada para mahasiswa yang akhirnya mengakibatkan korban terluka dan meninggal.

Salah satu tragedi dalam peristiwa ini adalah Tragedi Trisakti. Dinamakan tragedi Trisakti karena pada 12 Mei 1998 itu ada empat mahasiswa Universitas Trisakti yang ketembak mati. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hedriawan Sie.

 

Kematian mereka membuat malah memicu kemarahan rakyat yang lebih membara. Kondisi sosial politik jadi terguncang dan nggak kondusif banget. Akhirnya keadaan pun nggak terkontrol. Demo dimana-mana. Juga sempat ada penjarahan toko oleh orang-orang yang nggak dikenal.  

 

Berikut ini adalah beberapa kilasan cerita dari para tim ADSvokat yang sempat jadi saksi mata huru-hara di tahun 1998.

“Tragedi 1998 itu terjadi saat saya masih bekerja di MTV. Pada saat itu suasananya menyeramkan sekali. Sampai sekadar pulang ke rumah aja harus ada perjuangannya. Ada 30 orang pegawai MTV yang berusaha pulang dengan berbagai cara. Dianter pakai mobil teman dan ada yang sampai nginap di hotel dulu. Sempat ada juga yang dipalakin. Pokoknya situasinya nggak menentu. Mobil dibakar ada dimana-mana.”

Daniel Tumiwa, Chief ADSvokator (Alumni Hubungan Internasional Universitas Parahyangan)

 

 

“Waktu itu gue masih kelas 2 SMA. Ceritanya gue lagi cari CD games komputer. Karena waktu itu gue seneng banget otak-atik komputer. Nah, pas perjalanan pulang, gue lewat di daerah sekitar Cikini. Itulah momen ketika gue ngeliat orang-orang lempar batu ke toko-toko. Dan ada mobil yang dibakar juga. Di usia gitu gue memang belum ngeh sama kondisi Indonesia, tapi momen itu udah ngeri banget sih.”

Usa Moesadad, COO ADSvokat ( Alumni Teknologi Informasi Universitas Gunadarma)

 

“Pas tragedi 1998 aku masih kelas 2 SMA. Fokusnya belajar biar bisa masuk jurusan IPA. Tapi aku liat di TV, di Jakarta lagi ada demo besar-besaran. Ngeri juga, meski aku nggak ada disana langsung.”

Kevin Rahardja, Commercial ADSvokat (Alumni Sistem Informasi Universitas Parahyangan)

 

“Waktu tragedi 1998 saya lagi ada kuliah di kelas. Eh, tiba-tiba dosennya bilang begini: ‘Kenapa kalian masih ada disini? Tuh, liat teman-teman kalian berjuang mati-matian di jalan.’ Saya nggak berani keluar kampus karena memang kondisi waktu itu nggak kondusif banget.”

Heru Herlambang, CTO ADSvokat (Alumni Teknik Informatika STIMIK Perbanas Jakarta)

 

 

“Pas momen tragedi 1998 aku juga ikut demo sih di Bandung. Waktu itu aku mahasiswa semester 7. Polisi udah ngepung kampusku biar mahasiswa nggak ada yang turun ke jalan. Tapi akhirnya bentrok juga dan aku ikut demo di kawasan gedung sate. Semua mahasiswa Bandung kompak buat demo. Rame deh pokoknya jalanan. Meskipun nggak serame kayak di Jakarta.”

Andre Halomoan, CPO ADSvokat ( Alumni Arsitektur Universitas Parahyangan)

 

“Inget banget waktu terjadi tragedi 1998 aku disuruh bantuin bos aku buat ngamanin uang. Karena waktu itu di jalan-jalan udah banyak mobil dibakar. Banyak orang teriak dan menjarah barang di toko. Waktu itu juga sebisa mungkin bantu evakuasi teman-teman yang lain.”

Endah Dwi Rossanti, CFO ADSvokat (Alumni Universitas Persada Indonesia)  

 

Dari penuturan para kru ADSvokat yang pernah berada dalam masa tersebut, kamu jadi tahu bahwa tragedi Trisakti tahun 1998 itu kelam banget. Sebagai generasi emas penerus estafet kepimimpinan bangsa ini, kamu wajib ikut menjaga agar negara ini tetap baik-baik saja, ya! Jadikan Tragedi Trisakti sebagai pelajaran berharga untuk mahasiswa.

 

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.