Demo Boleh, Numpang Tenar Doang Jangan
  • copy tautan!
subscribe

Demo Boleh, Numpang Tenar Doang Jangan

17 April 2018

“Mahasiswa itu agen perubahan.”

 

Kamu pasti udah sering banget dengar kalimat itu. Entah di acara OSPEK atau waktu di ruang kuliah. Kamu selalu disebut-sebut sebagai agen perubahan yang punya tanggung jawab besar untuk menciptakan dampak positif di masyarakat.

 

Tapi, kenapa sih anggapan ini lengket banget sama status mahasiswa kamu?

 

Ternyata, latar belakangnya karena sedari dulu mahasiswa sering membuat perubahan besar dalam sistem sosial politik Indonesia. Mahasiswa Indonesia ikut berperan aktif dalam gerakan-gerakan perubahan. Salah satu gerakan ini dimulai oleh organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 1960 yang kebetulan hari ini adalah peringatannya.

 

Organisasi ini lahir karena dipicu oleh kegelisahan para mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) saat melihat kondisi sosial politik pada masa presiden Soekarno di tahun 1960. Situasi sosial politik masa itu lagi nggak jelas banget. Apalagi setelah Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia dibubarkan oleh Bung Karno. Belum lagi kondisi ekonomi Indonesia belum cukup stabil. Krisis terjadi di berbagai sektor.

 

Maka, bermula dari sini ada sekelompok mahasiswa dari golongan Nahdlatul Ulama (NU) itu yang punya inisiatif membuat organisasi gerakan mahasiswa. Lalu beridirilah PMII.

 

PMII menjadi salah satu organisasi yang cukup tegas dalam mengkritik pemerintah. Salah satu pendirinya yang bernama Mahbub Djunaidi, bahkan rutin menuangkan kritik-kritik tersebut dalam tulisan berbentuk opini di media massa.

 

Dampaknya pun cukup terasa. Pemerintah terdorong untuk terus membenahi sistem pemerintahannya. PMII pun menjadi salah satu organisasi gerakan mahasiswa yang menandai lahirnya angkatan aktivis 66. Dan estafet perjuangan ini terus berlanjut hingga era reformasi yang melahirkan angkatan aktivis 98.

 

Hingga saat ini PMII telah terbukti mencetak kader-kader berkualitas, lho. Sebut saja beberapa kadernya yang berhasil seperti Imam Nachrawi yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga,  Lukman Hakim Saifuddin yang kini masih menjadi Menteri Agama, dan Khofifah Indah Parawansa mantan Menteri Sosial.

 

Jadi, dari sejarah PMII kita dapat belajar bahwa kritik haruslah berdasarkan argumen yang kuat serta punya tujuan yang jelas demi kepentingan orang banyak. Bukan cuma asal ngomong dan sibuk demo di jalan aja. Apalagi kalau niatnya cuma untuk dilihat dan mendapatkan popularitas sesaat. Karena, untuk melakukan perubahan yang berdampak besar, mahasiswa nggak cuma dengan protes pakai megafon. Namun, juga harus bisa memberikan solusi yang ada benar-benar menciptakan perubahan besar.  

 

Makanya, menambah wawasan itu penting banget agar kamu punya landasan argumen rasional yang tepat. Nah, ADSvokat berusaha membantu kalian untuk menambah wawasan itu melalui berbagai program ADSvokat. Dari fitur push content yang membahas tentang beragam pengetahuan dunia mahasiswa, sampai acara konferensi mahasiswa.

 

Jadi, demo itu boleh aja. Tapi kalau numpang tenar doang, jangan deh. Mending manfaatkan bakat eksis kamu melalui aplikasi ADSvokat saja.

 

Dapet ilmu dan akhirnya jadi agen perubahan. #MasaGakMau?

 

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.