Anak IPA Juga Bisa Jadi Editor Buku, Kok
  • copy tautan!
subscribe

Anak IPA Juga Bisa Jadi Editor Buku, Kok

18 June 2018

Mahasiswa jurusan-jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) setelah lulus biasanya membayangkan jadi dosen atau guru. Padahal, anak jurusan IPA seperti Biologi, Kimia, Matematika dan Fisika tuh punya banyak alternatif pekerjaan kok setelah kuliah. Salah satunya adalah jadi editor buku non-fiksi.

Beberapa di antara kamu mungkin bingung karena biasanya kalau mau jadi editor buku tuh harus dari jurusan sastra, nggak juga kok. Biar kalian percaya, nih ada obrolan kita bareng Andya Primanda, anak biologi yang jadi editor buku non-fiksi seri sains penerbit KPG.

Perkenalkan diri…

Namaku Andya Primanda. Aku dulu kuliah di jurusan Biologi, Universitas Indonesia. Lalu lanjut S2 ke jurusan Biologi di Imperial College, London. Niat awalnya waktu itu lanjut S2 karena ingin jadi dosen, tapi pas pulang ke Indonesia belum ada lowongannya. Eh kebetulan aku dihubungi penerbit KPG (di bawah grup Gramedia) untuk jadi editor. Ya sudah, akhirnya sampai sekarang aku jadi editor non-fiksi di penerbit KPG, khususnya untuk seri buku sains

 

Sejak mahasiswa kegiatannya ngapain aja?

Waktu mahasiswa kegiatanku antara lain adalah baca buku, berdiskusi di klub diskusi, dan aku pernah coba menerjemahkan buku-buku di perpustakaan. Salah satu buku yang aku terjemahkan itu buku On The Origin of Species karya Charles Darwin. Lalu, aku tawarkan hasil terjemahanku ke beberapa penerbit. Terus, aku dikontak oleh penerbit KPG untuk mengerjakan beberapa proyek penerjemahan buku. Dari situlah koneksiku dengan penerbit KPG terjalin. Meskipun buku On The Origin of Species terjemahanku malah belum jadi terbit.  

 

Apakah pekerjaan sekarang berkaitan dengan jurusan kuliah dulu?

Kalau dibilang berkaitan secara spesifik sekali sih nggak. Ya, kan pas jadi editor nggak ngebelah hewan lagi seperti dulu pas kuliah di jurusan Biologi. Tapi banyak yang kupelajari waktu kuliah terpakai di pekerjaanku. Misalnya pola pikir, metode sains, dan kebiasaan yang berkaitan dengan  penelitian seperti mencari sumber, cek fakta, dan keakraban dengan istilah-istilah sains.

 

Untuk pekerjaan seperti Andya, apa aja sih tugas sehari-harinya?

Kegiatanku sehari-hari ya mengelola buku. Karena editor itu manajernya buku. Mengurus buku mulai dari naskahnya belum ada sama sekali sampai buku itu terbit dan terjual. Prosesnya: aku menghubungi penulis, mendapatkan naskah, mengedit naskahnya, ikut merancang sampulnya, sampai menentukan berapa jumlah buku yang dicetak dan harga jual buku. Juga mengurus kontraknya, dan terus berlanjut mengurus buku itu sampai bertahun-tahun. Jadi, pekerjaan seorang editor buku itu bukan cuma membetulkan tulisan.

 

Menurut Andya, di setiap kampus harusnya ada mata kuliah apa?

Menurutku yang wajib ada di setiap kampus dan jurusan itu mata kuliah berpikir ilmiah. Berpikir berdasarkan empirisme atau bukti yang bisa dicek benar salahnya. Cara berpikir seperti ini secara tak langsung melatih kemampuan berpikir kritis. Biar nggak gampang ikut-ikutan apa katanya orang dan nggak gampang baperan.

 

Apa pesan buat teman-teman yang lagi kuliah?

Tak peduli di jurusan apa pun kalian, upayakan bacalah buku sains. Agar kalian tahu bahwa ada cara berpikir yang sangat menghormati realitas atau kenyataan. Juga supaya kalian bisa hidup dengan menghargai hukum-hukum alam.

 

Dari wawancara sama bang Andya Primanda, kalian yang dari jurusan ilmu alam jadi punya alternatif profesi lain yang bisa digeluti. Ternyata jadi editor buku itu nggak melulu harus dari jurusan sastra kan? Nah, silakan buat yang berminat jadi editor buku coba jalani semua nasihat dari bang Andya Primanda. Selama kalian mau berusaha, yakin deh profesi apa pun pasti bisa diraih.

 

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.