ADSvokat Sharing Ilmu di Kalbis Institute
  • copy tautan!
subscribe

ADSvokat Sharing Ilmu di Kalbis Institute

22 May 2018

Sejak memasuki era digital, dunia industri advertising telah mengalami perkembangan pesat. Maka, siapa pun yang ingin terjun ke industri advertising, mau tak mau harus terus menambah wawasannya tentang kondisi dunia advertising masa kini. Oleh karena itu, pada hari Sabtu, 19 Mei 2018 lalu, tim ADSvokat menyempatkan diri untuk berbagi ilmu dalam acara Revolusi Dunia Advertising Jaman Now di kampus Kalbis Institute, Jakarta. Pembicaranya adalah Achmad Moesadad Shatrie yang merupakan Chief Operation Officer & Co-Founder ADSvokat.

Usa menjelaskan kepada para mahasiswa Kalbis Institute bahwa advertising adalah bentuk komunikasi untuk mempengaruhi orang agar mau membeli sebuah produk brand tertentu. “Advertising itu soal komunikasi agar orang mau membeli produk kita. Dan biasanya yang dibeli oleh customer itu bukan sekadar produk, melainkan experience,” tutur Usa.  

Selain itu, menurut Usa model advertising dibagi menjadi dua kategori, yaitu tradisional dan non-tradisional. Tradisional terdiri dari koran, radio, televisi dan medium outdoor. Sedangkan non-tradisional itu internet. Namun, jika diliat dari karakteristiknya, model non-tradisional jauh lebih fleksibel, targeted dan personal. Misalnya, iklan di Youtube bisa menargetkan customer dengan kriteria khusus dan bentuk iklan yang tak bisa diskip. Karena itu iklan non-traditional ini sering dipakai.

Tapi, pada akhirnya ujung dari perjalanan proses advertising adalah agar orang mau merekomendasikan produk tersebut. Inilah yang disebut sebagai advocacy. Untuk itu ADSvokat hadir sebagai start up yang ingin menunjukkan apa itu true advocacy.

Setelahnya, sesi tanya jawab pun dibuka. Para peserta langsung berebut mengajukan pertanyaannya. Pertanyaan pertama datang dari Hedi Umar, alumni Jurusan Manajemen, Kalbis Institute. “Misalkan saya punya usaha es kepal, bagaimana cara ADSvokat meyakinkan orang-orang agar mau menempelkan stiker tentang usaha saya?” tanya Hedi.

Usa menjelaskan bahwa ADSvokat dasarnya adalah untuk pure brand lover. Namun, bagi brand-brand yang belum terkenal, ADSvokat bisa memberikan saran untuk eksekusinya terlebih dahulu.

Pertanyaan berikutnya datang dari Ernest Wyalda, mahasiswa Jurusan Manajemen, Kalbis Institute. “Bagaimana cara ADSvokat mengukur berapa orang yang melihat medium brand yang diiklankan itu?

Usa menerangkan bahwa ADSvokat melakukan penggabungan antara data GPS dan data lain untuk melihat estimasi jumlah orang yang melihat brand tersebut. Cara ini cukup efektif dan kredibel untuk dijadikan instrumen pengukuran. Model bisnis ADSvokat selalu bisa memancing rasa penasaran orang. Terbukti dari pak Herwin, dosen Manajemen Kalbis Institute pun ikut bertanya tentang bagaimana cara mendirikan startup.

Usa kemudian menjelaskan bahwa mereka yang ingin mendirikan startup harus mencari tahu why mereka apa. Lalu, beranjak pada masalah yang ingin diselesaikan. Kemudian cari teman untuk ikut mendirikan startup ini. Usa juga mengingatkan bahwa hambatan ketika menjalankan ADSvokat itu banyak, jadi jangan pernah menyerah.  

Di penghujung acara ADSvokat juga memberikan hadiah goodie bag kepada Glen Frans Marliong yang merupakan pemenang kontes live report Instagram di hari itu. Kemudian, Usa juga menerima sertifikat sebagai pembicara yang diserahkan langsung Agus Trijanto, Dosen Kalbis Institute. Acara diakhiri dengan kegiatan foto selfie seru-seruan bareng.

Pengen dapet sharing ilmu juga dari ADSvokat? Tenang, semua bisa diatur. Hubungi kita via Instagram @ADSvokat atau via email operation@adsvokat.com. Ditunggu ya undangannya!

Download sekarang juga untuk bergabung dengan ADSvokat!

Get it on Google Play
apps adsvokat
Created with Sketch.